clock for time

Dentingan jam itu terdengar begitu jelas. Suara-suara nyamuk juga begitu gaduh, seperti bayi yang merengek-rengek. Semuanya sama seperti dua tahun yang lalu. Hanya saja, orang-orang yang berada di sampingku kini berbeda. Sisa-sisa ingatanku itu begitu jelas, seperti embun yang mulai turun malam ini. Menetes di dedaunan, yang mencoba bertahan sampai esok.

Sebotol air putih masih tergeletak di lantai. Tak seorang pun menyentuhnya. Hanya tadi sore saja botol itu di sentuh. Malam ini sudah tak lagi. Orang-orang sibuk dengan tangan masing-masing. Tangan yang memang tak akan berhenti malam ini. Namun, entahlah jika esok pagi …

Cahaya rembulan mulai berpendar malam itu. Menelisik di sela-sela dedaunan. Buaian angin malam pun saling berebut, entah bergurau, entah bertengkar. Namun, semuanya begitu natural. Yang mungkin berbeda dengan naturalnya negeri ini, yang sering dibuat-buat dan dipadu padankan.

Kini aku seperti sendiri. Bagai lorong waktu yang entah kapan ujungnya, aku pun tak tahu. Sedetik, semenit, sejam waktu itu tetap berjalan dan berulang tiap harinya. Mungkin inilah yang dinamakan proses. Proses yang masih tersisa dalam hidupku. Aku tetap menjalaninya, menghargainya, dan menerimanya seperti didikan zaman sampai lorong waktu ini benar-benar menemui ujungnya. Entah kapan … aku akan bersabar …

Sincerely,

Mico