(30 Mei 2010) Cuaca panas terasa menyengat ketika kaki ini menginjak sebuah tanah lapang nan jauh di sana. Ya, Polonia International Airport. Sebuah bandara yang dimiliki oleh kota Medan. Saya pun tercengang seketika.
“Wah, domestic arrival’nya jauh banget,” pikirku dalam hati.
Tak ada pilihan lain, aku pun memutuskan untuk jalan bersama seorang ibu yang entah siapa aku tak kenal. Yang pasti ibu itu tak jauh berbeda dengan aku. Mencari sebuah terminal yang dijuluki “Terminal Kedatangan Dalam Negeri”. Sepuluh menit

berlalu, akhirnya aku menemukannya dan segera beranjak untuk bagasiku. Tas yang kubawa pun kutemukan. Segera aku keluar dari pintu bandara dan mengambil sebuah handphone dari sakuku yang telah mati selama dua jam.
Segera kuketik sebuah short message service ke sebuah nomor yang orangnya pun aku belum tahu.
“Mas, aku sudah sampai bandara,” tulisku dalam sms.
Tak selang lama, balasan pun aku terima.
“Tunggu bentar ya, masih perjalanan,” balasnya.
Badan pun sudah bercucuran keringat menahan tas punggung yang berat dan kondisi yang panas. Cukup lama saya menunggu di lobi. Namun, ada sesuatu yang menarik ketika menunggu. Kubuktikan ucapan temanku sebelum melalang buana ini. Ternyata memang benar ucapannya. Orang Medan suaranya keras, seperti orang marah kalau berbicara. Namun, tak terlalu kuhiraukan hal itu. Suara keras bukanlah suatu hal menakutkan, yang terpenting hati mereka baik. Mungkin suara keras itu menunjukkan sebuah keberanian dan kejujuran orang-orang Medan yang ternyata sangat heterogen ini.
Setelah beberapa menit saya menunggu, akhirnya seorang sahabat yang belum aku kenal wajahnya pun muncul. Sebelumnya aku hanya mengetahui nomor handphone dan namanya saja.
”Aku pakai sweater garis-garis dan celana pendek di depan ATM,” tulisnya di dalam sebuah pesan singkat.
Aku segera beranjak mencari letak ATM sembari membawa dua tas yang lumayan berat, entah apa saja yang bersembunyi di dalamnya. Tak berapa lama aku menemukan kawan baruku itu.
Kami pun segera melanjutkan perjalanan, sambil mengelilingi Medan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ternyata Medan lebih ramai dari kota asalku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan cuaca di sana panas. Mungkin karena dekat dengan khatulistiwa atau memang karena kotanya yang padat dan ramai. Entahlah.

Perjalanan lumayan lama. Tapi tak apalah, sambil melihat kiri kanan jalan dan kutemukan sebuah tulisan ”Waspada”, salah satu nama koran terkemuka di Medan.
Akhirnya kami pun memasuki sebuah pelataran kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU). Sambutan hangat dan ramah seketika muncul ketika memasuki sebuah sekre yang didindingnya tertempel tulisan ”Teropong”.

Langsung kami berkenalan.
”Wia,” ujar salah satu awak Teropong.
Ternyata saya merupakan peserta yang datang dengan urutan ketiga, setelah sebelumnya ada kawan dari Palembang dan Riau. Kami langsung bercengkerama dan bercerita mengenai apa saja, mulai dari perjalanan sampai keadaan kampus.

Matahari mulai menyembunyikan sinarnya ketika sudah memasuki pukul 18.00 WIB. Namun, pukul 18.00 WIB di sana belum memasuki waktu Maghrib. Hal ini sangat berbeda dengan daerahku.
”Disini Maghribnya 18.30,” ujar salah seorang kawan baru.
Malam pertama di Medan menjadi malam yang tak terlupakan. Inilah kali pertama saya naik sebuah kendaraan yang mungkin menjadi salah satu ciri khas kota Medan, yaitu bentor. Sebenarnya aku pernah mendengar tentang bentor dari seorang sahabat yang sekarang berdomisili di Gorontalo. Sebuah alat transportasi layaknya becak, namun tidak dikayuh oleh manusia melainkan motor.
Di depan kampus yang memberlakukan jam malam itu pun tawar-menawar ongkos terjadi. Tak berapa lama setelah tawar menawar, akhirnya si abang bentor pun setuju. Meluncurlah kami ke sebuah tempat di dekat lapangan Merdeka untuk mengisi perut yang telah protes karena kelaparan.
”Sate bumbu kacang, sate bumbu padang?” tanya si penjual.
Pilihan jatuh pada sate ayam bumbu padang. Tak berapa lama tibalah pesanan itu. Dan mungkin inilah satu ciri yang menandakan makanan orang Medan, pedas. Di depan gedung yang bertuliskan “Mandiri Kantor Wilayah I Medan” itu pun makan malam berlangsung sambil berbincang menggunakan logat Medan yang menurutku terlalu cepat. Selanjutnya malam dilanjutkan dengan plesir ke sebuah gedung yang dijuluki Lonsum. Bangunan dengan arsitektur yang masih asli dari zaman dulu. Foto-foto pun tak terhindarkan di Lonsum.
Malam semakin larut, keindahan pun semakin terlihat. Kerlap-kerlip lampu di jalan, di gedung seolah menandakan bahwa kota ini tak pernah tidur selama 24 jam. Bersama Wia, Harmal, Anas, Hera kami berjalan menuju lapangan. Terdapat sebuah keunikan dilapangan itu, yaitu alat fitness gratis. Tak berapa lama kami memutuskan untuk kembali ke markas dengan berjalan kaki. Entah berapa km yang kami lalui. Tepat di samping hotel Marriot kami memutuskan berhenti dan menunggu angkot lewat. Pergantian angkot pun terjadi dua kali sampai akhirnya sampailah kami di UMSU. Ketika badan sudah terasa letih setelah melakukan perjalanan dari Jawa lanjut keliling entah dimana saja yang aku tak tahu namanya, akhirnya kuputuskan untuk beristirahat.

Hari berganti. Acara pun dimulai. Siang itu hampir sama dengan hari-hari sebelumnya, udara terasa panas. Pembukaan acara berlangsung hingga hampir pukul 17.00. Selanjutnya langsung menuju tempat yang aku perkirakan jaraknya juga jauh, mess dinas pertanian. Tempat ini bersebelahan dengan asrama haji dan bandara Polonia. Pembagian kamar pun dilaksanakan. Terlihat unik ketika nama kamar menggunakan nama marga yang sebelumnya aku tak pernah mengenal nama-nama itu. Malam pertama di mess dilalui dengan perkenalan satu sama lain hingga waktu untuk menikmati bantal, kasur, dan kamar baru pun tiba. Bersama kawan baru, John Daniel, Daniel, Ihsan kami melepas semua lelah di sebuah tempat dengan nama ”Harahap Room”.

Sincerely,

Jatmiko